Culinary: Medan Culinary Trip

Pertengahan Maret lalu gw melakukan solo trip ke Medan, kenapa solo trip? karena istri yang biasanya jadi partner in crime gw dalam berburu makanan sedang hamil gede dan sudah tidak boleh bepergian menggunakan pesawat dan melakukan perjalanan jauh lagi. Sebenernya klo dibilang solo trip beneran sih ngga karena akhirnya gw ngajak teman baik gw, Faro untuk nemenin culinary trip ke Medan. Tapi memang dia berangkatnya nyusul karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan dulu. Seperti biasa gw selalu memilih flight pagi untuk setiap trip, dan hari itu flight gw adalah jam 06.45. Pukul 05.30 gw sudah duduk manis di Starbucks terminal 2 untuk claim free 1 meal and drink dari ANZ *thank you so much ANZ* dan ini selalu gw lakukan setiap kali trip secara gw type orang yang ogah rugi :p Dan pagi itu gw sukses menghabiskan beef mushroom panini with cheese dan segelas hot chocolate. Di pesawatpun gw masih bisa ngabisin breakfast ala Garuda yang akhirnya bikin gw nyesel karena kekenyangan. Efeknya bisa bikin jadwal kuliner gw di Medan berantakan 😀

Gw tiba di bandara Kualanamu sekitar pukul 09.10, dan gw dibuat terkagum-kagum sama kerennya bandara ini. Menurut gw secara look dan fasilitas jauh lebih bagus dari bandara Soetta. Untuk menempuh perjalanan ke pusat kota Medan ada beberapa alternatif transportasi yang bisa digunakan bus, taksi atau railink (kereta bandara seperti Airport express di Hongkong *tsailaaaahh). Karena gw penasaran sama railink, akhirnya gw putuskan untuk mencoba railink untuk ke pusat kota. Untuk pembelian tiket railink bisa dilakukan di information atau di ticket machine. Pembayaran bisa menggunakan kartu kredit, debit ataupun cash.. Keren kaann!!!! Harga tiketnya IDR 100.000 untuk sekali jalan. Di tiket yang dibeli sudah tertulis nomor seat saat di kereta nanti. Gw berharap airport di Jakata bisa segera kaya Kualanamu. Perjalanan ke pusat kota kurang lebih 30 menit. Ada sedikit insiden saat gw tiba di pusat kota Medan, mobil yang akan gw sewa belum dateng dan katanya dia lagi ada masalah di kantor polisi dan akan antar mobilnya langsung ke hotel. Sempet mikir gw ditipu tp untungnya gw belum bayar biaya sewa rentalnya. Karena hari sudah semakin siang akhirnya gw putuskan naik taksi ke tujuan pertama culinary trip ini, Bihun Bebek Asie di Jalan Kumango. Oiya hati-hati kalo naik taksi di Medan karena rata-rata taksi memakai sistem tembak alias ga mau pake argo, kecuali taksi Blue Bird. Gw pun akhirnya naik taksi dari Center Point Mall yang lokasinya persis di seberang stasiun. Ternyata lokasi Bihun Bebek ini dekat sekali dari stasiun, tidak sampai 10 menit saya sudah tiba di lokasi. Saya beruntung masih bisa nyobain bihun bebek ini karena porsi yang saya pesan adalah porsi terakhir di hari itu. Info yang saya dapat jika ingin mencoba Bihun Bebek ini disarankan sebelum jam 11.00 karena biasanya di atas jam segitu mereka sudah tutup alias sudah habis.

 

Saat pesanan dateng, gw cukup shock liat porsinya yang lumayan gede, secara tadi gw udah sempet nge-Starbucks plus breakfast di pesawat. Dagingnya besar-besar dan banyak plus tambahan kuah kaldunya ini enaak banget, agak kental dan gurih. Gw sempet ngobrol sama pemiliknya,dia bercerita proses pembuatan kuah kaldu bebek ini sama kaya proses pembuatan kuah ramen. jadi bebek direbus selama seharian untuk mendapatkan kuah kaldu yang nikmat. Untuk pembuatan dan peracikan bumbu dilakukan sendiri untuk menjaga kualitas rasa. 1 porsi Bihun Bebek dihargai Rp 54.000,- memang agak mahal tapi harus diakui Bihun Bebek ini memang yang paling enak di Medan. Lokasinya berada di Jalan Kumango dan buka setiap hari (kecuali hari Minggu) pukul 07.00 sampai 11.00.

Selesai menyantap Bihun Bebek Asie, gw melanjutkan perjalanan kuliner ini ke Soto Sinar Pagi. Soto ini termasuk salah satu soto yang cukup terkenal di Medan, Miss Universe dan SBY pun menyempatkan makan siang disini waktu kunjungan ke Medan. Lokasinya ternyata tidak begitu jauh dari Bihun Bebek Asie. Suasana siang hari itu cukup ramai, hampir semua kursi terisi. Ada 2 jenis isian soto yang bisa dipilih, daging ayam atau sapi, dan gw memilih daging sapi karena memang gw ga begitu suka soto ayam. Tidak lama kemudian pesanan gw datang lengkap dengan nasi putih hangat dan perkedel. Kuah sotonya berwarna kuning kehijauan dan rasanya tajam kaya akan rempah-rempah. Sayang karena gw sudah agak kekenyangan, gw ga sanggup untuk menghabiskan nasinya. Nasinya doang loh yang ga abis, kalo sotonya tetap lenyap ga berbekas HAHAHAHHAHA. Seporsi soto Medan ini harus saya tebus Rp 42.000 sudah komplit dengan nasi dan perkedel, lokasinya ada di Jalan Sei Deli.

Picture 3369
RM Sinar Pagi

Picture 3372

Picture 3374
Soto Medan

Selesai makan di Soto Sinar Pagi gw langsung menuju ke hotel JW Mariott yang lokasinya sangat strategis di pusat kota. Kebetulan dari tiba di Medan gw belum sempat check in dan taro barang. Tidak lama sampai hotel, mobil yang gw pesan pun akhirnya diantarkan juga ke hotel. Jadi gw bisa tidur tenang sambil mikir mau makan apa sore nanti 😀 Sekitar pukul 5 sore gw bersiap untuk menuju stasiun untuk jemput Faro, tapi saat dalam perjalanan dia ngabarin klo pesawatnya delay. Jadi gw memutuskan untuk mampir sebentar ke Pilastro Coffee and Lounge. Kebetulan saat itu coffee shop cukup hype di Medan dan hampir dengan mudahnya ditemui di pinggir jalan. Design cafe ini minimalis dengan banyak didominasi oleh kayu yang membuat kita nyaman berlama-lama disana. Gw memesan Kopi Bajawa dari Flores dan Potato Chips with melted cheese sebagai cemilan. Setelah Potato Chips tuntas gw makan, kemudian gw memesan Avocado Pannacota yang rasanya ueenaaaakkk.. Alpukatnya sangat terasa dan pannacotanya lembut banget.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam disana, akhirnya Faro ngabarin klo dia udah dalam perjalanan menuju pusat kota Medan menggunakan Railink express. Dan gwpun segera meluncur ke stasiun untuk jemput. Dari stasiun kami menuju ke Merdeka Walk untuk makan malam, Merdeka Walk ini salah satu tempat yang paling terkenal di kalangan anak muda Medan. Disana terdapat banyak sekali restoran dan juga foodstall. Gw dan Faro memutuskan untuk makan di Warung Kopi Sriwedari. So far dari makanan yang kami pilih rasanya biasa aja, dan kayanya kami salah pilih tempat untuk makan malam.

 

Untuk menutup culinary trip hari pertama kami memutuskan lanjut ke Durian Ucok. Sesuai spanduk yang terpampang kesana, rasanya ga sah ke Medan kalo ga mampir ke Durian Ucok. Durian Ucok memang surganya durian, selain buah tersedia juga aneka olahan dari bahan durian seperti ice cream durian, dan pancake durian. Kita juga bisa memilih sendiri durian yang kita mau, dan sebelum meutuskan membeli kita dikasih kesempatan untuk nyobain. Karena saya sudah terlalu kenyang setelah seharian makan, kami memutuskan untuk membeli 1 buah saja yang kami makan disana.

Keesokan harinya kami sudah merencanakan untuk sarapan di Lontong Kak Lin, Lontong Medan yang lumayan terkenal di Medan. Berbekal google map akhirnya kami tiba di kedai Lontong Kak Lin. Kami berdua memesan lontong medan yang kemudian dihidangkan dengan lumpia dan sate kerang. Lontongnya terdiri dari isian telur, sambal kentang, dan juga kacang. Rasa kuahnya gurih bercampur dengan rasa tauco. Sedikit rasa pedas menambah lahap sarapan kami pagi itu. Kalau tidak ingat list selanjutnya yang harus kami kunjungi, pasti kami berdua sudah nambah lontong medan lagi :p Selain lontong medannya yang enak, sate kerangnya juga enak banget, rasanya agak sedikit manis dan gurih dan ada sedikit rasa pedas. Yang membuat kami shock adalah harganya yang murah, 1 porsi lontong medan dihargai Rp 13.000. Lokasi dari kedai Lontong Kak Lin ini di Jalan Teuku Cik Ditiro.

 Selesai sarapan, kami lanjutkan dengan berburu dessert. Dessert yang kami cari adalah Es Campur Nana yang terletak di Jalan Brigjen Katamso. Kami agak kesulitan mencari kedai ini karena tempatnya yang ternyata sangat kecil di pinggir jalan. Susahnya karena ga ada yang bisa ditanya dan google map tidak bisa mencari secara pasti lokasinya. Akhirnya setelah cukup lama mencari jalan, kami berhasil menemukan kedai es campur ini. Penampakan es campurnya sangat menggoda dan rasanya memang luar biasa enak. Perburuan kami mencari kedai ini tidak sia-sia. Yang istimewa dari kedai ini adalah es alpukatnya, jika telat sedikit sampai bisa dipastikan anda akan kehabisan es alpukatnya. Dan saya beruntung berkesempatan mencoba es alpukat. Yang saya suka dari es alpukatnya adalah gula arennya yang masih agak kental dan agak crunchy seperti karamel, makin menambah kenikmatan es alpukat di siang hari yang panas. 1 porsi es alpukat atau es campur dihargai Rp 11.000-15.000.

Picture 3302
Proses pembuatan es campur
Picture 3292
Es alpukat yang rasanya juara
Picture 3298
Es campur

Untuk makan siang, kami ingin mencoba masakan khas Medan atau yang biasa di Jakarta dikenal dengan lapo. Tidak sulit untuk mencari lapo di Medan, hampir di setiap jalan yang dilewati pasti ada lapo. Tapi siang itu kami memutuskan untuk mencoba Rumah Makan Dapur Batak Roma yang terletak di Jalan Pabrik Tenun. Selama perjalana sudah terbayang-bayang lezatnya babi panggang dan juga saksang. Kurang lebih 30 menit akhirnya kami sampai di RM Dapur Batak Roma, suasana cukup sepi ato bahkan cuma kami yang akan makan disana. Sempet khawatir rasanya kurang enak karena tidak ada orang lain yang makan selain kami. Tapi sang Ibu pemilik rumah makan bercerita bahwa dia habis melayani 60 orang tamu yang datang menggunakan 2 bus, sehingga begitu mereka bubar, rumah makan langsung terlihat kosong. Kami langsung memesan babi panggang, babi goreng, saksang dan daun singkong sebagai menu makan siang. Daun singkong yang kami pesan sempat dibilang habis oleh pelayan, namun dengan sedikit pendekatan ke ibu pemilik rumah makan akhirnya kami berhasil mendapatkan daun singkong sebagai pelengkap makan siang. Tidak lama kemudian pesanan kami pun datang, dan dalam waktu sekejap kami berhasil menghabiskan semua pesanan kami. Babi goreng dan babi panggangnya sangat garing dan gurih, bener-bener makanan dari surga. Ini lapo terenak yang pernah gw makan. Saksangnya juga sangat enak, walaupun secara penampakan tidak meyakinkan tapi rasanya maknyuuss. Yang istimewa dari rumah makan ini, begitu selesai makan mereka akan memberikan compliment berupa es mentimun. Rasanya suegeeeerrr banget.

Siang itu kami bener-bener kekenyangan, perut rasanya mau meledak karena kebanyakan makan. Untuk menurunkan makanan kami putuskan untuk jalan-jalan di Centerpoint mall sambil menunggu makan malam. Keluar dari Centerpoint kami melunjur ke jalan selat panjang dimana sepanjang jalan itu terdiri dari banyak restoran dan rumah makan seperti nasi hainam, nasi campur, mie hokkien,bubur ikan, dll. Kami memesan Mie Hokkien dengan isian komplit dan Mie Tiong Sim. Secara rasa gw lebih suka mie tiongsim karena lebih cocok dengan lidah gw. Slesai makan Mie Tiongsim, kami lanjut memesan martabak piring manis yang cukup ramai pengunjung. Disebut piring manis karena wadah yang dipakai untuk adonan menggunakan piring kaleng. Gw memesan isian komplit dan keju, hanya dalam hitungan menit martabak tersebut habis bersarang di perut dan slesailah perburuan kami di hari kedua.

Di hari ke 3 kami menyempatkan untuk breakfast dulu di hotel, rasanya sayang kalo tidak mencicipi breakfast di hotel ini (teteeuupp ogah rugi :p) . Karena perburuan belum berakhir gw hanya mencoba bubur dan wafel saja supaya tidak terlalu kenyang. Selesai sarapan kami lanjut hunting makanan lagi, kali ini yang kami tuju adalah Bakso Sapi Aan. Sebenarnya cabang dari Bakso Sapi Aan ini sudah buka di PIK, tapi gw penasaran ingin mencoba langsung kedai pertamanya yang ada di Medan. Sama seperti kebanyakan bakso, kita bisa memilih pake mie ataupun bihun, tapi karena ga mau terlalu kenyang gw memutuskan untuk pesan baksonya saja. Hampir sama seperti di PIK bakso ini memang enak, kualitas dagingnya nomor wahid dan bikin ketagihan. Yang paling istimewa adalah sambelnya yang dibawa langsung dari Aceh. Sambelnya terasa agak pedas,asam dan gurih. Sang pemilik ngajarin gw untuk coba makan dengan cara mencocol baso ke piring sambal dan rasanya memang maknyuuuusss.. Gw rasa tuh sambel dicampur ganja :p Sayangnya sambel ini tidak tersedia di cabangnya yang di Jakarta. Seporsi bakso dihargai Rp 30.000.

Tujuan terakhir dari culinary trip ini adalah nasi babi, dan kami memilih Chasio Asan sebagai makan siang kami hari itu. Chasio Asan merupakan salah satu rumah makan yang menyajikan nasi babi yang sayang untuk dilewatkan jika berkunjung ke Medan, mereka hanya memiliki 1 menu yaitu nasi babi panggang. Memasuki rumah makan ini langsung terlihat sang pemilik sedang memotong-motong babi panggang, cukup bikin ngiler sih ngeliat daging babi yang sedang dipotong 🙂  Nasi disajikan dengan telur, babi merah dan babi putih kemudian disiram kuah kental berwarna kecoklatan. Dagingnya sangat garing dan gurih. Gw paling suka babi merahnya karena pas dimakan terasa krenyes-krenyes dan manis seperti madu. Seporsi nasi babi ini dibanderol Rp 40.000,-.

Akhirnya selesai sudah petualangan kuliner gw di Medan. Sampai ketemu di culinary trip selanjutnya 🙂


6 thoughts on “Culinary: Medan Culinary Trip

    1. Hahahahha, gw sempet nanya sih ste kapan tuh sambel dibawa ke Jakarta, dan dijawab sampai saat ini dia belum niat ngirim tuh sambel ke Jakarta. Tp emang enak banget sih sambelnya buat cocolan, gw sampe minta nambah sambel :p

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s